Bumblebee

Hiiii. I’m back!

Dengan cerita baru “si calon Ibu” :). Alhamdulillah diberikan kepercayaan sama Allah untuk menjaga titipanNya. Cukup lama saya dan Mas Budi menantikan si buah hati. Berbagai doa dan usaha sampai terapi tiap minggu, ada juga yang terapi per bulan. Heboh deh. Ibu pengen banget momong cucu katanya. Bukan Ibu doang sih tapi Uci, Tara udah heboh juga. Kalau Bapak sih diam aja tapi dalam hati pasti berharap juga. Mengingat beberapa sepupu ada yang menikah lebih dari 15 tahun dan hampir 10 tahun belum juga diberi momongan jadi ada ketakutan tersendiri.

Setelah berbagai usaha yang rasanya selalu semangat 45, kami berdua sempat berpikir mungkin doa kami yang kurang ‘ngena’ sama Allah sampai pada akhirnya kami fokus pada satu doa “Ya Allah jika engkau berkehendak kami memiliki keturunan maka kami akan menjaga anak kami agar berada di jalanMu”. Gak lama deh tuh doa itu terus diucap tiap sholat. Sengaja ikutin caranya ustad Yusuf Mansur kalau doa disertain sholat sunnah lainnya apalagi tahajud plus doanya sambil nangis melas gitu. Gak apa-apa kayak gitu lah wong mintanya sama yang ciptain kita. Lagipula Dia yang tahu mana yang doanya jujur atau enggak.

Jadi kita berdua udah serahin ke Allah mau jadi apapun anak kami nanti asalkan dia utamain Allah, bukan dunia dan bukan kami orang tuanya. Doa kami yang lain sih mudah-mudahan Allah mengizinkan anak kami masuk pesantren ustad Yusuf Mansur untuk jadi penghafidz qur’an. Subhanallah. Kalau punya anak seorang hafidz apa rasanya ya? Semoga Allah mengizinkan. Nah jadi hafidz qur’an kan salah satu bentuk perjuangan dijalan Allah.

Untuk perkembangan bumblebee (panggilan kesayangan kami) akan ada di post selanjutnya yaaa. Insya Allah.

Advertisements

Ini cerita lucu atau miris?

Entah ini cerita lucu (kalaupun lucu bukan dalam pengertian yang sebenarnya) atau cerita miris.

Jadi begini, saya punya seorang teman yang alhamdulillah sudah menjadi mualaf sejak masih sekolah, Ibunya seorang muslim, kakak perempuannya non islam, Bapaknya non islam tapi seperti tidak menganut suatu agama apapun.

Beberapa tahun yang lalu, Bapaknya dalam kondisi sakit yang cukup parah dan dalam kondisi sakitnya itu mungkin Allah memberinya hidayah dalam bentuk mimpi dan atau pertanda lainnya, akhirnya ia pun menjadi mualaf. Bahkan menjadi mualaf yang rajin sekali beribadah.

Baru saja menjadi mualaf, si Bapak sudah mendapat rezeki melalui orang lain, diberangkatin umrah. Alhamdulillah, sungguh besar dan tidak terduga rezekiNya. Namun kakak perempuannya seperti tidak terima karena Bapaknya berangkat umrah atas nama orang lain, ya si pemberi hadiah ini katakan saja Ibu X memberangkatkan Bapak ini dengan atas nama anaknya Ibu X. Menurut saya, toh sama saja, semuanya mendapat berkah kan?

Rasanya si kakak kurang mengerti arti itu dan merasa tidak terima sehingga ia pun marah-marah. Tidak lama, si kakak perempuan ini berdebat dengan adik laki-lakinya (teman saya) sampai menangis dan debat yang cukup alot dan hebat mengenai hal lainnya. Teman saya bersikukuh akan membela serta menjaga Ibu dan Bapaknya karena permintaan kakaknya sangat aneh dan tidak masuk akal.

Kakak perempuannya meminta supaya keluarganya masuk kristen lalu setelah dia menikah boleh masuk islam lagi. Aneh kan?! Ya, kakak perempuannya memang punya rencana menikah dengan orang Indonesia juga yang tinggal di Jepang, keluarganya non islam. Dulu memang sebelum Bapaknya masuk islam pernah berjanji akan menikahkan anaknya. Namun sekarang kondisi sudah berbeda. Kakak perempuannya dijelaskan mengenai hidayah juga akan susah karena hidayah hanya diberikan Allah kepada orang yang pantas dan tepat menurutNya.

Jadi, ia merasa takut dan malu menjelaskan ke keluarga calon suaminya mengenai kondisi ke-islaman keluarganya. Ya, dia malu. Astaghfirullah. Ibunya pun menjelaskan kenapa harus malu karena memang sudah begitu kondisinya. Kakaknya pun tetap ngotot meminta keluarganya untuk berpindah agama sementara. Lucu atau miris? Memangnya keimanan seseorang mainan?

Perkara Jilbab

Sedih ya, udah tahun 2013 tapi belum berjilbab juga padahal udah dikasih suami yang alhamdulillah taat sama Allah, dikasih pekerjaan, rezeki kesehatan yang luar biasa, keluarga yang bahagia lalu apa yang menjadi halangan untuk berjilbab?

Seharusnya gak ada alasan sih dan sebenernya gak bisa beralasan juga bilang a, i, u, e,o karena berjilbab itu sifatnya wajib. Titik.

Ibu bilang kalau sebelum saya berjilbab perlu persiapan yang matang, jaga lisan, jaga perbuatan karena bebannya berat.

Ya, Ibu maunya saya bukan cuma sekedar ikutan tren pakai jilbab modis. Padahal gak ada istilah juga tentang jilbab modis, suka sedih sih ngeliat yang katanya tren jilbab modis. Saya yang belum berjilbab aja suka sedih liatnya kok seperti gak ikut aturan dan hijab modis tanpa sengaja diarahkan untuk membeli pakaian yang super mahal. Ya, buat saya mahal aja untuk beli outer aja bisa di atas 250ribu? Ya ampun, kenapa jadi konsumtif? Padahal kesederhanaan itu yang utama bukan?

Semoga saya bisa belajar menyaring dan menganalisis apa yang ada.

Sewaktu masih pacaran saya selalu bilang sama suami, setelah nikah saya mau pakai jilbab, tapi pas nikah malah mundur niatnya dengan bilang setelah punya anak aja pakai jilbabnya. Sedih ya. Hehe. Tapi karena pengen pakai jilbab jadi 2013 kalau pergi keluar sama suami atau keluarga, saya pakai jilbab tapi kalau ke kantor belum bisa karena perlu perlengkapan pakaian dan jilbab yang luar biasa banyak dan itu membutuhkan uang yang banyak.

Jadi, saya selalu berdoa semoga Allah menetapkan hati saya, membulatkan tekad saya, dan memudahkan urusan saya agar cepat terlaksana niatan ini. Aamiin.

A Bucket of Friends

Hihihi

Judulnya aneh ya, satu keranjang teman-teman.

Lagi nulis ini sembari dengerin albumnya Why Should I Care nya Diana Krall. Ada yang suka juga sama Diana Krall gak di usia yang seumuran sama saya under 30? Eh jadi out of topic gini 😀

 

Saya punya 3 sahabat yang buat saya luar biasa.

Gilang, Lora, Ulfa. They are on my bucket 😀

 

Ketiganya punya kepribadian yang unik dan beda-beda.

Gilang, seniman.

Lora, wirausahawan.

Ulfa, guru.

 

Jarang banget bisa kumpul berempat, karena kesibukan Ulfa yang weekend aja masih ada bimbel atau ekstrakurikuler sekolah. Lora, kegiatan kumpul keluarga, teman, pesta pernikahan, beberapa toko tasnya. Gilang, tinggal di Perancis. Pernah kami ketemuan setelah 1 tahun lebih gak ketemu. Parah banget kan. Tapi pas ketemu tuh gak ada marahan atau ngedumel ini itu, pengennya dengerin curhatnya mereka aja, dengerin keluh kesahnya mereka. Ya, karena waktu ketemuan yang selalu terbatas tapi ada 4 kepala dan 4 cerita. Jadi, biasanya kami cerita garis besarnya aja dan semua pasti dengerin dengan seksama.

Dibandingin semua, kayaknya cuma saya yang jalan hidup gak semulus mereka, terutama masalah keuangan. Tapiiii, saya gak pernah iri sama sekali sama mereka, saya malah seneng banget kalau mereka bisa sukses, bahagia. Meskipun kadang permasalahan yang mereka hadapi itu menurut saya lebih complicated sih. Kalau udah denger keluh kesahnya gitu ikutan bingung sama sedih juga.

Pokoknya sayang banget sama mereka dan bersyukur bisa punya sahabat kayak mereka meskipun kita jarang komunikasi dan gak intens ketemuan.

Tiap ketemu mereka tuh jadi semangat lagi untuk punya impian dan saya gak perlu gak fair ceritain masalah yang saya hadapin. Kita kalau cerita blak-blakan aja meskipun itu permasalahan keluarga ya. Tapi, nyaman cerita ke mereka 🙂

Kalau sahabat beneran gak perlu ada ‘drama queen’ segala atau backstabber-an. Jadi gak capek atau sedih 🙂

I hope our friendship, long last ya. Aamiin.

Happy Wedding Anniversary My Frog Prince

Gak kerasa udah 1 tahun aja loh pernikahan saya sama Budi. Tiap harinya ada aja perbincangan kecil, carut marut 2 kepala, dan kegilaan sifat yang masih pengen main-main. Hehe.

Sebenernya kita gak berniat ngerayain karena kita berdua punya prinsip yang hampir sama kalau ulang tahun, ulang tahun pernikahan gak perlu dirayain tiup lilin dan perayaan besar-besaran.

Bayangin, kita cuma duduk ngobrol di kafe, nikmatin musik, sepiring french fries yang enak banget, segelas Ice americano, dan segelas passion fruit ice tea.

Jadi, kalau kita ngelihat ada orang yang ngasih ini itu, surprise kado semahal-mahalnya, kita cuma komentar “wooo ow too much!” a.k.a lebay. Hehe.

Tingkat romantis itu kalau surprisenya kapan aja. Kalau cuma nunggu event setahun sekali sih Big No. Toh, suatu saat kalau tiba-tiba Budi kasih surprise pas ultah nikah bakalan jadi istimewa banget karena jarang dilakuin.

Itu konsep kita sih. Gak boleh berlebihan dalam memperingati sesuatu. Hampir serupa dengan motonya “simple is elegance”.

Kalau cewek di luar sana mungkin udah marah kali ya kalau suaminya gak ucapin happy wedding anniversary pas bangun tidur. Kalau saya sih tutup kuping pendapat lebay orang-orang yang menuntut keromantisan. Bayangin, pagi hari jam 6 kami sudah berangkat kerja bersama tapi di jalan juga gak bahas tentang ucapan selamat. Dan Budi baru ucapin sekitar jam 6 kurang di depan kantor setelah saya cium tangannya. Kalimatnya simple “selamat ulang tahun pernikahan sayang”.

Yup! Simple kan? Terus saya tanya kenapa ucapinnya sekarang bukan waktu saya buka mata di tempat tidur kayak di film-film romantis? Jawabnya simple: “maunya sekarang aja”.

Hehe punya suami kaku kayak kanebo kering. Yaaa, untungnya saya gak anggap perayaan kayak gitu jadi hal yang wajib!

Akhirnya di jalan kita mutusin untuk ke kafe di sekitaran Jalan Veteran. Belum pernah ke sana sih dan beruntungnya tempatnya cozy plus unique!

Selamat ulang tahun 1 tahun pernikahan sayang!

Lots of love, hugs, and kissess.

20131028-160237.jpg

Allah Maha Baik

Aaaaa….

Kenapa title yang saya tulis “Allah Maha Baik”? karena memang benar! Tanpa kebaikan Allah tadi malam mungkin kami sudah terbakar habis ketika nyenyak tidur dan bahkan ratusan rumah yang ada di sekeliling kami juga ikut terbakar.

Ya Allah. Sungguh aku gemetaran tadi pagi sekitar pukul 05.30 untuk bangun dan menghangatkan makanan. Kami masih ada stok rendang dan karena semua aktivitas dilakukan pagi hari maka saya yang bertanggung jawab untuk bercengkerama dengan dapur.

Pada saat saya ke kompor saya sangat kaget karena posisi pengontrol kompor gas sudah berada di tengah-tengah (yang seharusnya berada dalam posisi api menyala namun tidak ada apinya) dan saya cium bau gas yang tidak terlalu menyengat. Langsung saja saya kembalikan posisi pengontrol dalam keadaan mati. Lalu bodohnya saya karena penasaran langsung saya nyalakan lagi kompornya dan tiba-tiba ledakan kecil dan api!

Kompor kembali saya matikan lagi dengan segera!

Dengan sigap saya memanggil suami yang berada di kamar dan meminta dia untuk memeriksa kembali. Dan dalam keadaan saya sudah bersiap-siap dengan posisi memegang handuk tebal yang basah.

Alhamdulillah, kompor kembali menyala dengan semula.

Sungguh Allah Maha Baik. Masih menjaga kami.

Bayangkan saja, pada malam sebelumnya saya yang bertugas untuk menghangatkan rendang itu kira-kira jam 7 malam dan saya sangat yakin kalau pengontrol kompor sudah saya kembalikan ke posisi mati.

Tapi???

Kalaupun saya lupa berarti posisi gas sudah aktif selama hampir 11 jam!

Ya Allah, sungguh Engkau Maha Baik, mau mengingatkan hamba untuk berhati-hati. Terima kasih telah melindungi kami.

Dreams of a Dreamer (1)

Menunggu suami ngelatih selama 2 jam di sevel itu bikin bingung dan mati gaya. Kepikiranlah untuk ngeblog tapi karena gak ada persiapan nulis gak bawa laptop jadi ngeblog di hp.

Kenapa title yang saya tulis mimpi-mimpi dari pemimpi? Ya. Sebenernya saya mau nulis tentang suami saya. Menurut dia “mimpi dan harapan yang membuat manusia hidup”. Kalau gak punya katanya serupa zombie.

Ya benar juga sih. Coba bayangin kalau kita sebagai manusia cuma ngejalanin hidup apa adanya: bangun pagi, sarapan, berangkat kerja di tengah kemacetan, kerja penuh tekanan, makan siang, lanjut kerja (masih) penuh tekanan, (terkadang) lembur, pulang kerja, (masih) kena macet, sampai rumah, makan malam, (kadang) lanjut lagi ngerjain kerjaan, tidur, dan begitu seterusnya.

Gila! Hidup kita boring banget! Gak ada waktu untuk mikirin impian misalnya berenang di Maldives meskipun nyisihin uang ke Kepulauan Seribu aja bikin gak bisa nongkrong pas wiken. Atau impian nonton konser di Singapura meskipun kenyataannya Java Jazz aja gak pernah disambangin.

Buat saya gak apa-apa dan gak terdengar gila. Selama kamu bikin impian-impian yang di luar imajinasi itu terus ada.

Sewaktu kuliah dan masih kerja di Kemdiknas sebagai researcher. Saya belajar tentang NPL. Intinya, coba bangun impian yang kamu punya dengan 3 hal: Visualisasikan, Dengarkan, Rasakan.

Contohnya seperti ini. Kamu memiliki cita-cita ngelanjutin kuliah S2 Psikolog. Visualisasinya bayangin seakan kamu bisa melihat kamu ada di ruang kelas dan melihat dosen nerangin materi.
Dengarkan waktu dosen tiba-tiba menghampiri kamu dan bilang nilai ujian kamu paling tinggi dan dia ucapin selamat. Kamu pun tersenyum bahagia.
Rasakan waktu kamu pegang lembar ujian itu dan kamu bisa lihat nilai yang kamu peroleh.

Gila?

Enggak sama sekali! Itu bisa jadi impian yang jadi kenyataan! Meskipun gak 100% berjalan sesuai harapan kamu.

Pada saat kamu bermimpi dan membangun impian jadi otakmu dan alam bawah sadar akan merespon dan bekerja tanpa kamu sadari.

Kenapa impian harus dibangun? Ya karena impian gak bisa begitu aja terjadi tanpa ada “do some action”.

Caranya, misalnya saja kamu searching beasiswa di internet, persiapin kemampuanmu melalui penguasaan materi, dan jangan pernah berhenti bermimpi. Bukan itu aja kuncinya. Satu lagi yang paling mujarab. Sabar. Ya, sabar menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik.

Suami juga selalu bilang jangan pernah malu untuk bilang kepada dunia impian yang kamu punya. Nah bagian ini yang jadi alasan akan ada banyak orang bilang kamu gila dan bull****. Tapi bisa kamu jadikan cambuk untuk raih impianmu.

Wah sampai lupa jelasin apa saja impian suami dan action yang udah dia rencanain. Mungkin di post berikutnya.

See you!

Me and Angola

Image

Pernah gak sih kamu berada di dalam kondisi yang ‘aneh’ kayak gini waktu temenan?

Jadi gini, saya punya teman sebut saja BUNGA. Hehe. Kayak nama untuk tersangka/korban kekerasan seksual ya? Hmmm… Ganti nama inisial deh jadi FULAN. Duh, terlalu ‘agamais’ banget gak sih? Ganti lagi deh jadi ANGOLA. Kita pakai nama negara aja ya 😀

Angola ini orangnya friendly abis, semua orang yang kenal sama dia akan ‘jatuh cinta’ dengan caranya mendengarkan sehingga semua orang akan ‘melacur’ a.k.a melakukan curhat. Kecuali saya ya, mostly saya gak nyaman untuk ‘melacur’ karena yang saya rasakan Angola bukan tipe perhatian sebagai sahabat tapi cuma sekedar penasaran informasi sebagai teman. Jadi, saya kurang percaya dengan ke’friendly’annya itu 🙂

Di beberapa kesempatan, kita pernah ketemu dengan beberapa orang baru. Angola tipe orang yang super dekat sama orang-orang sedangkan saya tipe orang yang kalau bertemu orang baru saya akan coba dekat, tapi sedikit aja. Setelah ‘agak kenal’ baru saya pergi dan menyendiri lagi. Yup, itu tipe saya, untuk gak punya temen yang super deket dan lebih nyaman melakukan sesuatu hal sendirian.

Seharusnya Angola tahu hal kayak gini dan gak perlu takut kalau tau saya sedikit ngobrol sama ‘negara lain’ kayak Zimbabwe, Rusia, Jepang dan lain-lain. Rasa takut dan curiganya yang berlebihan itu yang bikin saya risih setiap ketemu ‘negara-negara lain’ kalau ada Angola.

Apa karena saya dan Angola itu perempuan ya? Cowok ngerasain kayak gini juga gak sih? Soalnya kalau perempuan udah takut temennya diambil tuh ampuuuun deh, nyeremin banget! Bakalan ada adegan menjatuhkan gitu kayak Tom and Jerry.

Risihnya, setiap ketemu akan selalu ada kejadian berulang dan saya gaaaak suka banget. Pengen rasanya bilang ke Angola kalau gak perlu takut ‘negara-negara lain’ diambil. Gak, saya gak mungkin ambil atau temenan dekat sama ‘negara-negara lain’ soalnya saya nyaman sendirian.

Saya nyaman bicara sendiri.

Saya nyaman nyanyi sendiri.

Saya nyaman pecahin masalah sendiri.

Saya nyaman semua hal serba dilakuin sendiri.

Saya lebih nyaman curhat sama sahabat saya, which is, lovely husband.

So, you don’t have to be worry Angola 🙂

Hell is empty and all the devils are here.

William Shakespeare (The Tempest).

Movie Review

Yup. Sepertinya saya lupa untuk membuat pembahasan mengenai film yang udah pernah ditonton. Kesempatan nonton film itu pas wiken atau kalau lagi suntuk banget sama kerjaan, after office hour pun langsung nonton meskipun besok berangkat kerja pagi dan kerjaan numpuk.

Tiap wiken itu bisa nonton 4-8 film tergantung stok film yang ada entah minta hasil donlod-an sama anak-anak FUN (temen-temen yang kerja di ruang yang dikasih nama FUN) atau beli dvd bajakan di Poinsquare. Hehehe bandel ya. Jadi, ini list film yang udah didapet untuk wiken besok.

  1. 21 and Over (2013)
  2. Dark Skies (2013)
  3. Evil Dead (2013)
  4. Warm Bodies (2013)
  5. R.I.P.D (2013)
  6. After Earth (2013)
  7. 50-50 (2011)
  8. Daydream Nation (2010)
  9. The Number 23 (2007)

Cukup banyak kan untuk dihabisin dalam waktu 2 (dua) hari? Beruntungnya punya suami yang pengertian sama hobby nonton istri jadi dia gak akan ganggu istrinya konsentrasi nonton film. Di awal, agak susah ngajak Budi nonton film (dia gak suka film! Aneh kan?) dia bisa aja tidur di saat film main sampai selesai. Duh! Gak menghargai seni. Tapi setelah pelatihan selama hampir 5 tahun 🙂 dia pun standby untuk nonton film apa aja disamping istrinya.

Well, tunggu review film versi saya ya.